Pembuatan Briket Dari Kulit Buah Langsat

Lailan Ni`mah

Abstract


Meningkatnya kebutuhan dan harga bahan bakar serta usaha mengurangi emisi CO2 guna mencegah terjadinya pemanasan global telah mendorong penggunaan energi biomassa sebagai pengganti energi bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara, sebagai bahan bakar alternatif yang efisien dan ekonomis untuk kebutuhan sehari-hari Contoh energi biomassa, yakni briket.

Briket bioarang adalah arang (salah satu jenis bahan bakar) yang dibuat dari aneka macam bahan hayati atau biomassa. Bahan yang dapat dibuat briket bioarang adalah kulit buah langsat.

Penelitian briket biorang dari kulit langasat, bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari briket yang dihasilkan, yakni nilai kalor. Variasi karbon kulit langsat dengan perekat tapioka yakni 75:25; 50:50 dan 25:75. Dari penelitian ini diperoleh nilai kalor tertinggi yang diperoleh dalam penelitian ini, yakni pada perlakuan C, dimana komposisi bahan pembuat briket yaitu Kulit Buah langsat : Tapioka (75% : 25%) yaitu 5558 kal/gr dan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan nilai minimal 5000 kal/gr. Sedangkan, nilai kalor terendah adalah pada perlakuan A yaitu 5061 kal/gr dengan komposisi Kulit Buah langsat : Tapioka (25% : 75%). Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan komposisi bahan pembuat briket bioarang sehingga memberi pengaruh berbeda terhadap nilai kalor.

Full Text:

PDF

References


Adekunle, I. M., 2010, Production of Cellulose Nitrate Polymer from Sawdust, E-Journal of Chemistry, ISSN:0973-4945, Volume 7, Nomor 3, Halaman 709-716.

Ahiduzzaman, M., 2007, Rice Husk Energy Technologies in Bangladesh, Agricultural Engineering International : the CIGR Ejournal Overview, Volume IX, Nomor 1, Halaman 1-10.

Balaka, Ridway, Aditya Rachman dan Ld Muh. Golok Jaya, 2013, Mitigating Climate Change through the Development of Clean Renewable Energy in Southeast Sulawesi, a Developing Region in Indonesia, International Journal of Energy, Information and Communications, Volume 4, Nomor 4, Halaman 33-42.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, 1994. Pedoman Teknis Pembuatan Briket Arang. Departemen Kehutanan No. 3.

Basrianta, 2007. Manajemen Sampah. Kansius.Yogyakarta.

Brades, A. C. Febrina S T.2008.Pembuatan Briket Arang Dari Enceng GondokDengan Sagu Sebagai Pengikat.

Danjuma, M.N., B. Maiwada, R. Tukur, 2013, Biomass Briquetting Technology in Nigeria: A case for Briquettes Production Initiatives in Katsina State, International Journal of Emerging Technology and Advanced Engineering, ISSN: 2250-2459, Volume 3,Nomor 10, Halaman 12-20.

Gandhi, B.A., 2010. Pengaruh Variasi Jumlah Campuran Perekat Terhadap Karakteristik Briket Arang Tongkol Jagung. SMK Negeri 7. Semarang.

Hartono, A.J., 1992. Memahami Polimer dan Perekat. Edisi Pertama. Andi Offset. Yogyakarta.

Hartoyo, 1983. Pembuatan Arang dari Briket Arang Secara Sederhana dari Serbuk Gergaji dan Limbah Industri Perkayuan. Bogor, Puslitbang dan Pengembangan Hasil Hutan.

Haryanto, B., 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Penerbit Kansius. Yogyakarta.

Hendra, D dan Winarni,I. 2003. Sifat Fisis dan Kimia Briket Arang Campuran Limbah Kayu Gergajian dan Sebetan Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan.

Heyne, K.,1987,Tumbuhan Berguna Indonesia, Volume II,Yayasan Sarana Wana Jaya : Diedarkan oleh Koperasi Karyawan, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta.

Himawanto, D. A. 2003. Pengelohan Limbah Pertanian menjadi Biobriket Sebagai Salah Satu Bahan Bakar Alternatif. Laporan Penelitian. Uns. Surakarta.

Kurniawan, O. dan Marsono., 2008. Superkarbon.Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak Tanah dan Gas. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lestari, L., Aripin, Yanti, Zainudin, Sukmawati, Marliani, 2010. Analisis Kualitas Briket Arang Tongkol Jagung Yang Menggunakan Bahan Perekat Sagu Dan Kanji. Jurusan Fisika, Fakultas FMIPA, Universitas Haluleo, Kendari.

Mabberley, D.J., Pannel, C.M. and Sing, A.M. 1995. Meliaceae. Flora Malesiana series I, Vol. 12, Part 1. Rijksherbarium/Hortus Botanicus, Leiden University, Leiden, Netherlands.

Pari, Gustan, Nobuo Ishibashi dan Kiyoshi Miyakuni, A Flat Kiln and Utilization of Sawdust Charcoal: Its Capacity as a Soil Conditioner and for Carbon Storage, Forestry Research and Development Agency, Japan International Cooperation Agency, University of Kyoto, Short-tern Expert.

Riseanggara, R. R., 2008. Optimasi Kadar Perekat Pada Briket Limbah Biomassa. IPB, Bogor.

Rustini.2004. Pembuatan Briket Arang dari Serbuk Gergajian Kayu Pinus (Pinus Merkusii Jungh. Et de Vr.,) dengan Penambahan Tempurung Kelapa. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Silalahi, 2000. Penelitian Pembuatan Briket Kayu Dari Serbuk Gergajian Kayu. Hasil Penelitian Industri DEPERINDAG. Bogor.

Sinurat, Erikson, 2011, Studi Pemanfaatan Briket Kulit Jambu Mete Dan Tongkol Jagung Sebagai Bahan Bakar Alternatif.

Sudrajat, R., 1984. Pengaruh Kerapatan Kayu, Tekanan Pengempa, dan Jenis Perekat Terhadap Sifat Briket Kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, Bogor.

Triono, A. 2006.Karakteristik Briket Arang dari Campuran Serbuk Gergajian Kayu Afrika (Maesopsis Eminii Engl)dan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) dengan Penambahan Tempurung Kelapa (Cocos nucifera L). Departemen Hasil Hutan. Fakultas Pertanian. IPB, Bogor.

Verheij E.W.M. dan Coronel, R.E (Ed), 1992, Plant Resources of South-East Asia, No.2, Edible Fruits and Nuts, Prosea Foundation, Bogor, Indonesia, p186-190.

Verheij, E.W.M. dan Coronel, R.E., 1997, Sumber Daya Hayati Asia Tenggara 2, Prosea, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Widarto, L dan Suryanta, 1995.Membuat Bioarang dari Kotoran Lembu.Cetakan Ke-6 tahun 2008.Kansius. Bogor.

Yudanto, Angga dan Kartika Kusumaningrum, 2010, Pembuatan Briket Bioarang dari Arang Serbuk Gergaji Kayu Jati, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro.




DOI: https://doi.org/10.20527/bpi.v3i2.75

Refbacks

  • There are currently no refbacks.